Sah: Untuk Kekasih
Diterbitkan oleh Admin
Diperbarui pada:

Untuk sementara,
kita biarkan Tuhan duduk di ruang tunggu.
Karena tiap kali kau datang bulan
aku merasa doa kita dikabulkan setengahnya.
Bukan kita membenci kehidupan, sayang—
tapi mengundang bayi lahir di negara yang memotong anggaran untuk makan-makan,
namun tak sanggup benar-benar memberi makan
adalah keberanian yang serupa bunuh diri
Nampaknya, kita belum sanggup untuk menyumbang kelas menengah baru untuk diperah dan diperas.
Kau pernah bilang, lidahku serupa ayat—
tak selalu benar, tapi seringkali membuatmu pasrah.
Namun lidahku kalah sakti, kalah licin
dibanding lidah orang-orang di istana
yang terus menjilat walau sampai bernanah.
Permainan lidah dan ludah kita di ranjang
hanya amatir untuk mereka
yang lidahnya menilat ludah sendiri.
Langkahku lambat.
Tak secepat jet pribadi anak pejabat
yang melesat bepergian di antara rintih kita.
Mereka menyantap roti seharga sewa kontrakan kita sebulan,
sementara kita di sini merangkak—
diantarkan dari satu teror pinjol ke gali-lubang-tutup-lubang berikutnya.
Kadang aku bertanya,
Buat apa mereka melayang puluhan ribu kaki di udara,
jika mobilitas kelas sosial kita dipaksa jalan di tempat?
Gaji UMR kita sudah menguap, dicekik pajak sana-sini,
bahkan sebelum kita sempat menghitungnya.
Lalu kau bertanya tentang masa depan,
di bawah langit abu-abu yang sewarna dengan nasib kita.
Udara yang kita hirup dipenuhi debu batu bara,
sementara di seberang pulau sana,
hutan-hutan dikeruk habis demi nikel dan ambisi energi hijau yang paradoks.
Bahkan paru-paru kita tak lagi punya ruang aman
untuk sekadar menarik napas tanpa diancam langit yang merah marun.
Maka jangan buru-buru menuntut sah.
Buku nikah di KUA mungkin gratis,
tapi kontrakan petak, harga beras, dan gengsi tetangga
tidak bisa dilunasi hanya dengan kata cinta.
Biar, biarkan kita tetap bersetubuh dengan kemungkinan.
Terombang-ambing antara cinta, dosa,
dan tagihan paylater yang bunganya terus beranak-pinak
mengalahkan laju inflasi negara.
Karena di negeri ini, tak pernah ada kepastian.
Hakim bisa dibeli, kebenaran bisa direvisi.
Tak ada yang tersisa selain peluk di antara pelik.
Peluk yang memaku kita pada kenyataan—
seperti bilah-bilah sayap burung garuda
yang berdiri megah di atas tanah yang merintih;
mangkrak dalam janji,
tapi terus dipaksa terbang dalam ilusi.
2026

Suka ngaku-ngaku jadi penyair. Suka pamer di Instagram @jinbun_amongraga

Di Pelataran Rumah Ibu yang Berdebu

Sekian Kekalahan

Chit Chat

Layarku-Layarmu

Instastory

Ikan-ikan Berbaring dan Puisi Lainnya
Posting Komentar (0)
Masuk dengan akun Google untuk ikut berkomentar.
Masuk