Jaka Cangkem: Koreografi Buruk Kongsi Tanduk Hitam
Diterbitkan oleh Fatio Nurul Efendi
Diperbarui pada:

Penulis: Fatio Nurul Efendi
Editor: Zen
Kepala desa itu melayang di udara. Hidungnya hanya berjarak setengah tombak dari ujung sepatu besi seorang algojo bertubuh raksasa. Tepat saat itu, sebuah teriakan membelah udara.
"Cut! Cut! Cut!"
"Tahan! Tahan posisi itu sebentar!" Suara itu menggelegar, mengalahkan jeritan warga dan gemeretak tiang-tiang rumah kayu yang sedang dirobohkan paksa.
Algojo dari Kongsi Tanduk Hitam itu terkejut. Refleks, ia menarik kakinya. Tubuh kepala desa yang sudah pasrah menerima maut jatuh berdebum ke tanah berlumpur. Di tengah kepungan debu bangunan dan api kecil yang mulai menyala di balai desa, suasana mendadak hening. Semua orang menoleh ke sumber suara, baik warga yang menangis maupun para preman bayaran yang sedang beringas.
Di atas atap gardu ronda yang setengah rubuh, berdiri seorang pemuda berjubah abu-abu kusam. Tangan kirinya memegang bumbung bambu besar. Tangan kanannya menunjuk ke arah sang algojo dengan ekspresi sangat kecewa.
"Kuda-kudamu goyah saat melompat," kata pemuda itu, Jaka Cangkem, sambil menggelengkan kepala. Ia melompat turun dari gardu dengan gerakan yang anehnya sangat ringan. Kakinya menyentuh tanah nyaris tanpa suara, seolah tubuhnya terbuat dari kapas.
Jaka berjalan santai membelah kerumunan preman yang masih mematung kebingungan. Ia berhenti tepat di depan sang algojo yang tingginya dua kali lipat darinya.
"Kalau kau menendang kepala desa yang tak berdaya dengan sudut kemiringan bahu seperti tadi, kau tidak terlihat seperti algojo yang kejam." Jaka mengetuk lutut si raksasa dengan bumbung bambunya. "Kau terlihat seperti bangau kesemutan. Estetika kekejamanmu nol besar. Tidak ada dramatisasinya sama sekali."
"Siapa kau, keparat?!" Si algojo akhirnya tersadar dari kebingungannya. Wajahnya memerah karena malu dan marah. "Berani-beraninya kau mengganggu urusan Kongsi Tanduk Hitam!"
"Aku? Aku cuma penonton yang matanya sakit melihat eksekusi peran seburuk ini," jawab Jaka santai. Ia lalu menoleh ke arah barisan preman yang memegang obor dan palu godam untuk meratakan kampung.
"Dan kalian semua!" Jaka berteriak sambil merentangkan tangan, layaknya sutradara di tengah panggung. "Blocking kalian kacau balau! Kenapa yang bawa obor berdiri di belakang yang bawa palu? Api kalian tidak terlihat oleh penonton! Ini penggusuran paksa atau kerja bakti kelurahan?!"
Belasan preman itu saling pandang. Separuh marah, separuh merasa bodoh, karena tanpa sadar mereka menggeser posisi berdiri mengikuti arahan Jaka.
"Bunuh orang gila ini!" raung si algojo raksasa, kehilangan kesabaran. Ia mengayunkan gada besinya yang berduri tajam langsung ke kepala Jaka. Angin berkesiur kencang mengikuti ayunan senjata itu.
Warga menjerit dan menutup mata. Namun, Jaka bahkan tidak berkedip.
"Terlalu lambat," bisik Jaka. "Dan blocking-mu terbuka lebar."
Jaka tidak menghindar. Ia hanya melangkah setengah ketukan ke depan, menyusup ke bawah ketiak si raksasa, lalu menyodokkan ujung bumbung bambunya tepat ke titik saraf di rusuk lawan. Tidak ada ledakan tenaga dalam yang norak. Hanya satu ketukan presisi.
Raksasa itu mematung. Matanya melotot. Gada besinya terlepas dari genggaman dan jatuh menghantam kakinya sendiri. Tubuh besarnya lalu tumbang seperti pohon jati yang ditebang.
Jaka memutar bumbung bambunya dengan anggun, lalu menatap sisa preman yang kini mulai gemetar.
Dari barisan belakang, seorang pria kurus dengan bekas luka melintang di wajah melangkah maju. Ia memutar seutas rantai tebal berujung bandul baja di tangan kanannya. Dialah pemimpin rombongan ini, Mandor Codet.
"Hebat juga nyalimu, anak muda," desis Mandor Codet. "Tapi kau salah panggung. Ini bukan tempat bermain-main. Kongsi Tanduk Hitam sudah mengantongi surat resmi dari kadipaten. Kampung miskin ini akan disulap menjadi taman hiburan para pejabat. Menyingkir, atau kau ikut rata dengan tanah!"
Jaka menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ia terlihat sangat frustrasi. "Aduh, dialogmu itu... astaga. Kenapa antagonis zaman sekarang selalu membeberkan seluruh rencananya di depan umum, sih? 'Taman hiburan para pejabat,' katamu? Motivasi yang dangkal dan terlalu klasik. Kurang eksplorasi karakter. Kau sepertinya tipe penjahat yang mati di bab tiga."
"Tutup mulutmu!" Mandor Codet mengayunkan rantainya. Bandul baja itu melesat membelah udara, mengincar dada Jaka.
Pada saat yang sama, selusin anak buahnya ikut menyerbu dari berbagai arah dengan golok dan tombak.
"Bagus! Akhirnya ada aksi!" Jaka tersenyum lebar.
Alih-alih menangkis, Jaka menggunakan Jurus Tata Panggung. Ia menunduk tepat saat bandul baja Mandor Codet lewat di atas kepalanya.
Bandul itu justru menghantam wajah salah satu anak buah Codet yang sedang berlari dari arah berlawanan. Pria itu terpental dengan hidung patah.
"Satu figuran tumbang karena salah posisi!" seru Jaka.
Seorang pengguna tombak menusuk dari kiri.
Jaka memutar tubuhnya seperti penari. Ia menjepit gagang tombak itu dengan ketiak, lalu menjadikannya poros untuk menendang dada preman pembawa obor di sebelah kanan. Preman itu terhuyung mundur. Apinya menyambar celana temannya yang membawa palu.
Dalam hitungan detik, arena pertarungan berubah menjadi komedi slapstik yang mengenaskan. Pasukan Kongsi Tanduk Hitam saling pukul, saling tabrak, dan saling bakar karena Jaka terus memanipulasi posisi mereka. Ia melangkah ringan, menyisipkan bumbung bambunya ke sela-sela kaki lawan agar mereka tersandung, sambil terus melontarkan kritik pedas.
"Emosinya mana?! Ayunan golokmu kurang bertenaga!" Jaka memukul pergelangan tangan seorang preman hingga goloknya terlempar.
"Gesturmu kaku sekali! Kau mau membunuh orang atau senam pagi?!" Jaka menyodok perut lawan lain hingga ia memuntahkan makan siangnya.
Melihat pasukannya kocar-kacir, Mandor Codet meraung marah. Ia menarik rantainya dan melompat tinggi, berniat menghancurkan kepala Jaka dengan satu serangan penuh tenaga dalam.
"Mati kau, pemuda sombong!"
Jaka menatap Mandor Codet yang melayang di udara. "Melompat terlalu tinggi tanpa pijakan kedua. Kesalahan elementer."
Jaka menggenggam bumbung bambunya dengan kedua tangan. Selama ini musuhnya mengira benda itu hanya tempat menyimpan naskah. Mereka tidak tahu bahwa di dalam bambu itu bersarang inti besi hitam yang padat.
Jaka mengayunkan bumbungnya dari bawah ke atas, layaknya pemukul bola.
BTAK!
Bumbung itu menghantam telak dagu Mandor Codet. Bunyi tulang bergeser terdengar ngilu. Mandor Codet terlempar ke belakang, berputar dua kali di udara, lalu mendarat dengan wajah mencium lumpur. Rantainya terlempar entah ke mana. Ia pingsan seketika.
Sisa preman yang masih sadar langsung menjatuhkan senjata. Lutut mereka bergetar melihat pemimpin mereka roboh hanya dengan satu ketukan bambu.
"Turunkan layar!" seru Jaka sambil menepukkan tangan sekali. "Pementasan hari ini selesai! Pulang sana, perbaiki naskah, dan latihan lagi yang keras!"
Tanpa perlu disuruh dua kali, para preman itu mengangkat Mandor Codet dan si algojo raksasa, lalu lari terbirit-birit meninggalkan kampung.
Debu perlahan turun. Keheningan kembali menyelimuti desa. Warga mulai keluar dari tempat persembunyian. Kepala desa yang tadi nyaris tewas merangkak bangun dan mendekati Jaka dengan tubuh gemetar.
"T-terima kasih, Tuan Pendekar," ucapnya sambil bersimpuh di tanah. "Kalau tidak ada Tuan, kampung kami pasti sudah..."
"Jangan panggil aku pendekar," potong Jaka cepat. Ia mengusap bumbung bambunya yang kotor dengan ujung jubah.
"Pendekar itu gajinya kecil dan jam kerjanya tidak jelas. Aku cuma sutradara dan penulis naskah yang sedang mencari panggung yang layak."
Kepala desa itu berkedip bingung. "S-sutradara?"
"Benar." Jaka memutar tubuh dan menatap jalan setapak tempat para preman tadi kabur. Matanya yang tadi jenaka kini menyipit tajam, memancarkan kilat berbahaya. "Dan sepertinya naskah penggusuran Kongsi Tanduk Hitam ini perlu aku rombak total. Siapa tadi nama adipati yang menyewa mereka?"

Suka ngaku-ngaku jadi penyair. Suka pamer di Instagram @jinbun_amongraga

Lilin

Tak Semua Manusia Mampu Menjadi Sosok Bapak

Sah: Untuk Kekasih

Khotbah Cangkem Elek: Perlukah Madhzab Baru di Era Sekarang?

Khotbah Cangkem Elek: Tentang Haji dan Kurban

Khotbah Cangkem Elek: Idul Adha dan Perbedaan
Posting Komentar (0)
Masuk dengan akun Google untuk ikut berkomentar.
Masuk
