Asam Lambung dan Pestanya
Diterbitkan oleh Susi Retno Utami
Diperbarui pada:

Penulis: Susi Retno Utami
Editor: Cangkeman
belakangan, mumet adalah perkara sekte yang besar kepala. ia harusnya sebagian kecil ranting yang belok, tapi ia bandel dan membesarkan soal-soal di ketinggian.
mulai dari ketinggian nada ocehan, ketinggian gunung yang tak pernah didaki—tapi selalu merindukan pelukan validasi.
lanjut pada ketinggian egosentrisme yang melekat pada keputusan yang membenci diskusi—ia hanya cinta distraksi yang jika dilawan balik, ia akan tantrum dan mencari tersangka yang bernama antek-antek asing.
hahaha, tidak berhenti di sana. ketinggian juga akrab di rumah-rumah warga tanpa kacamata. minus membudaya, silinder jadi rajanya. sementara tanda tanya yang tidak jelas arahnya itu tetap saja dilanggengkan secara membabi buta—setiap waktu, setiap bertemu, setiap sabtu, setiap minggu.
yap, ketinggian seperti menenggak obatnya dengan salah kaprah. ada yang menjadi akhir sebelum menjadi mula. pun ada yang lantang menghangatkan diri meski dekap belum benar-benar hinggap.
notifikasi tanpa henti itu milik sang alkemis kekuasaan. ia bisa dengan mudah menjadi ibu peri atau juga bapak-bapak yang lebih manusiawi. tapi apalah daya, jika charger-nya hanya diingat saat listrik sedang perlu diperbaiki.
belum lagi ketinggian di ruang-ruang tidur. ada sejuta kata yang tidak akan habis dalam semalam. sekali ia diupayakan untuk ditelan, ia justru tumbuh pesat di lain dimensi dan menjadi lauk makan di esok hari.
kuharap bantal-bantal kehidupan senantiasa kuat ya, hahaha. meski aku tahu, derasnya ketinggian masih membasahinya dengan tanpa aba-aba, pun tanpa bertanya, apakah lambung si tuan sudah akrab dengan keasaman yang lahir setelah ia ada.
Kontributor Cangkeman

Sah: Untuk Kekasih

Di Pelataran Rumah Ibu yang Berdebu

Sekian Kekalahan

Chit Chat

Layarku-Layarmu

Instastory
Posting Komentar (0)
Masuk dengan akun Google untuk ikut berkomentar.
Masuk