Cangkeman: Berani Bicara Itu Baik!
Masuk
  • SAYA AKAN LAWAN!
  • SAYA AKAN LAWAN!
  • SAYA AKAN LAWAN!
  • SAYA AKAN LAWAN!
  • SAYA AKAN LAWAN!

Yang Online-Online Enggak Selamanya Asik

Diterbitkan oleh Gilang Dermaga
Diperbarui pada:

https://sevima.com/wp-content/uploads/2019/08/Tips-blended-learning.jpg
https://sevima.com/wp-content/uploads/2019/08/Tips-blended-learning.jpg

Penulis: Gilang Dermaga

Editor: Fatio Nurul Efendi

Memilih S1 Psikologi secara daring dengan bayangan fleksibilitas penuh, sampai deadline pertama datang menghantam muka saya seperti kereta komuter yang remnya blong.

Awalnya, di batok kepala saya skenarionya teramat sederhana: belajar santai sambil rebahan sepulang kerja yang keparat lelahnya, secangkir kopi kita sedih, materi di layar tinggal diklik. Tidak ada ceritanya macet-macetan menelan asap knalpot menuju kampus, tak perlu adu sikut rebutan lahan parkir, dan tak ada dosen paruh baya yang menatap sinis tatkala kita telat melangkah masuk kelas. Sempurna betul hidup ini, pikir saya waktu itu.

Kenyataannya? Sengkarut sialan! Saya belum pernah mengalami kemacetan mental separah itu seumur hidup.

Jika boleh merangkum, kuliah online itu rupanya bukan jalan pintas yang lebih gampang. Sistem bajingan ini cuma memindahkan keruwetan dari ruang kelas yang bising, langsung ke dalam kesunyian isi kepala kita sendiri.

Semester pertama bahkan belum genap bernapas dua minggu, saya sudah ditodong berondongan deadline tugas, analisis njelimet, jurnal refleksi 1.500 kata yang bikin mual, sampai kuis online berengsek yang durasinya cuma sekelebat mata. Salah klik sedikit, sistem otomatis mencekik nilai jadi nol. Tidak ada kawan sebangku untuk diconteki atau diajak misuh-misuh bareng. Yang tertinggal di kamar hanya saya, sorot biru layar laptop, dan rentetan notifikasi LMS yang berbunyi nyaring laiknya alarm kebakaran di gedung tua.

Sejujurnya, ini bukan perkara otak saya yang kelewat tumpul atau tak mampu. Banyak tugas dari mata kuliah lain yang nyatanya sudah rampung dan tinggal disetor. Namun, ada semacam hantu di dalam diri saya yang terus-menerus berbisik, "Setop. Jangan lanjutkan komedi putar ini. Kamu harus kabur secepatnya sebelum bongko beneran."

Ironisnya minta ampun. Saya sok-sokan mendaftar masuk prodi Psikologi buat membedah perilaku manusia, tak terkecuali mengurai isi kepala sendiri. Nyatanya, kuliah daring justru menelanjangi saya dan mempertemukan saya dengan versi diri yang paling berantakan, gampang terdistraksi hal remeh, dan hobi menumpuk-numpuk pekerjaan. Prokrastinasi rupanya bukan lagi sekadar teori mentereng di buku tebal, melainkan dosa mingguan yang saya lakoni dengan khusyuk.

Dari situ saya dipaksa sadar, kuliah tatap muka yang sering kita kutuk-kutuk dan keluhkan itu aslinya punya satu kemewahan yang acapkali dianggap sepele: struktur sosial. Ada jam masuk yang memaksa kita mandi, ada dosen yang mengawasi, ada teman buat berdebat atau sekadar nongkrong sebat di kantin, ada interaksi yang bernapas. Sementara kuliah online menuntut level disiplin diri seorang pertapa, yang praktiknya ternyata sepuluh kali lipat lebih bangsat daripada sekadar membayangkannya.

Meski begitu, saya juga ogah sepenuhnya mengambinghitamkan sistem kuliah daring. Gara-gara sistem ini pula saya dipaksa belajar lebih mandiri, membaca jauh lebih rakus, dan akhirnya memetakan bagaimana mental saya sendiri merespons tekanan yang datang bertubi-tubi.

Pada akhirnya, saya mengetuk palu untuk cabut. Pindah prodi demi menyelamatkan sisa-sisa kewarasan.

Keputusan mundur ini diambil bukan karena saya sudi mengaku kalah, bukan pula tanda kelemahan. Melainkan karena saya percaya, tahu kapan harus berhenti dan mengenali batas toleransi diri sendiri adalah bentuk kesadaran diri yang paling telanjang dan jujur.

​Saya mungkin memang tak ditakdirkan jadi sarjana Psikologi yang gagah membacakan hasil tes kepribadian orang. Tetapi, setidaknya saya memetik satu pelajaran telak: sering kali, membedah dan memahami isi kepala sendiri jauh lebih rumit, ruwet, dan butuh nyali ketimbang merapal teori-teori Sigmund Freud dari dalam teks.

​Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama dihantui tenggat waktu, isi kepala saya rasanya kembali waras. Lebih bisa bernapas. Jauh lebih enjoy.

Bagikan:WhatsAppXFacebook

Laporkan artikel ini

Pilih alasan yang paling sesuai. Identitasmu tidak ditampilkan ke pemilik konten.

Alasan laporan
Gilang Dermaga

Gilang Dermaga

Kontributor Cangkeman

Posting Komentar (0)

Masuk dengan akun Google untuk ikut berkomentar.

Masuk

    Feedback

    Nemu error, punya ide, mau protes, atau sekadar kasih semangat? Tulis saja. Redaksi membaca semuanya.