Bapak Ibu Lempar Piring, Kita Kena Beling
Diterbitkan oleh Fatio Nurul Efendi
Diperbarui pada:

Penulis: Fatio Nurul Efendi
Editor: Cangkeman
Teman saya, Codet, beberapa hari yang lalu curhat ke saya sambil misuh-misuh tentang kondisi rumahnya yang bikin ia pusing tujuh keliling. Pasalnya, rumahnya tidak lagi menjadi ruang untuk pulang, apalagi menjadi ruang aman.
Si Codet bercerita, akhir-akhir ini Bapaknya sering pulang malam. Tak jarang dengan bau alkohol yang menyengat, seolah sudah jadi parfum harian. Enggak hanya itu, ia juga dengar selentingan kalau Bapaknya punya "simpanan" di kantor.
Gara-gara hal itulah Ibunya sering marah-marah. Konon, Ibunya berhasil menyadap HP Bapaknya, dan mendapati kalau suaminya itu memang hobi berselingkuh dengan wanita lain di luaran sana.
Sedangkan Ibunya sendiri, kerap kali dipergoki Codet sedang bertelepon ria dengan Pak Bambang—tetangga sebelah yang masih membujang, walau umurnya enggak beda jauh dari Ibunya. Bahkan di beberapa kesempatan, Codet sering melihat Pak Bambang main ke rumah ketika Bapaknya sedang pergi bekerja.
Rasanya, tak ada lagi kehangatan di rumah itu. Tiap kali Bapak dan Ibunya bertemu, barang-barang di rumah mendadak disulap menjadi drone, alias berterbangan ke sana kemari.
Suara piring pecah yang disambut makian, lalu diiringi tangisan adik atau kakak perempuannya, hampir tiap hari harus didengar oleh Codet.
Yang jadi masalah lagi, keributan-keributan ini bikin Bapak dan Ibunya lebih fokus pada kesalahan satu sama lain. Hingga terkadang, suara perabotan terbang itu harus bersahutan dengan bunyi token listrik yang tak kunjung diisi. Codet dan adiknya mulai jarang dapat uang saku seperti biasa. Ibunya jadi enggan masak untuk bekal anak-anaknya. Kakak perempuan Codet pun berujung malas pulang ke rumah.
Dan ngeheknya lagi, Bapak dan Ibu Codet kerap kali mencari koalisi dari anak-anaknya. Bapaknya bilang—sambil bawa pizza—kalau Ibu tidak bisa mendidik anak, enggak bisa ngurus rumah, dan cuma jadi istri yang suka menghamburkan uang suami.
Sementara Ibunya bilang—sambil bawain martabak dari Pak Bambang—kalau Bapaknya itu tukang selingkuh yang cuma suka foya-foya dengan wanita lain.
Codet dan saudara-saudaranya yang memang sudah muak dengan kondisi rumah, beberapa kali malah jadi ikut terseret ke dalam arena pertarungan Bapak dan Ibunya. Kadang, di antara mereka akhirnya malah saling bertengkar demi membela salah satunya.
"Tapi kita memang sering dihadapkan pada kondisi seperti itu sih, Det," ucap saya, sambil membakar rokok lintingan menyambut curhatan Codet.
"Memangnya Bapak dan Ibu kamu begitu juga?" Codet balik bertanya.
"Hmm, enggak, sih. Tapi kita sering dihadapkan pada posisi seperti itu; orang lain yang ribut, kita yang kena getahnya."
"Maksudnya gimana?"
"Yah, kayak di kerjaan aja. Kadang bos-bos kita ribut cari atensi dari perusahaan, eh, anak buah yang ikut ditekan sana-sini, kan?"
"Iya, yah..."
"Dalam kehidupan bernegara juga begitu."
"Kok jadi bernegara?"
"Iya. Kita kadang melihat pertikaian para elite saling senggol sana-sini. Lalu kita yang miskin-miskin ini dan butuh pelampiasan, ikut-ikutan mendukung dan mencerca elite lainnya. Padahal harga-harga masih mahal, lapangan pekerjaan masih susah, jalanan masih banyak yang rusak, pajak makin tinggi, tapi para elite lebih sibuk bermain drama politik demi kekuasaan. Dan jancuknya, kita ikut terbawa arus itu."
"Maksudnya kayak Prabowo sama Jokowi?"
"Bukan, bukan. Ini bukan tentang siapa lawan siapa. Terkadang kita memang terlalu memikirkan 'siapa', sampai akhirnya lupa kalau ada hal-hal berbau 'apa'—bukan 'siapa'—yang sebetulnya jauh lebih membutuhkan perhatian."
Si Codet diam mendengarkan.
"Kita tersiksa dengan banyak permasalahan di rumah. Namun, Bapak dan Ibu kita lebih suka berantem daripada menyelesaikan masalah-masalah yang lebih fundamental. Hingga akhirnya kita juga ikut jengah, dan parahnya, kadang kita lupa kita jengah karena apa, sampai akhirnya kita ikut dibuat tak fokus pada masalah utama."
"Oh, iya. Aku paham."
"Yah, begitulah memang kehidupan."
"Atau jangan-jangan... Bapak dan Ibu itu sebenarnya bisa berumah tangga biasa saja, adem-ayem saja. Tapi karena mereka merasa gagal menjadi orang tua karena satu dan lain hal, maka mereka menciptakan musuh mereka sendiri. Dijadikan kambing hitam untuk menutupi ketidakbecusan mereka sendiri, ya?"
Saya tidak menjawab apa yang dikatakan Codet. Rokok saya sudah hampir menyentuh batas busanya. Lalu saya ganti dengan batangan yang baru. Rasanya, jika mengganti beban hidup semudah mengganti sebatang rokok, hidup ini mungkin akan jauh lebih selow.

Suka ngaku-ngaku jadi penyair. Suka pamer di Instagram @jinbun_amongraga

Yang Online-Online Enggak Selamanya Asik
Sebuah Curhatan Cowok Kepada Cewek Se-Alam Semesta

Jadi Desainer Grafis Itu Enggak Gampang, Tau!

Tersinggung Itu Wajar, Tapi Enggak Perlu Mengancam Bunuh Orang Dong!

Stop Jadikan Orang Sebagai Perokok Pasif!

Bacotan Tetangga Kos di Tengah Malam Emang Goblok
Posting Komentar (0)
Masuk dengan akun Google untuk ikut berkomentar.
Masuk



