Membayangkan IAIN Kediri Beralih Status Menjadi UIN Tan Malaka, Aroma Revolusi Menggema, Satu Desa Satu Filsuf Adalah Keniscayaan
Diterbitkan oleh Nur Saifullah
Diperbarui pada:

Penulis: Nur Saifullah
Editor: Fatio Nurul Efendi
Bukan rahasia umum lagi jika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) seakan-akan punya semacam kewajiban tak tertulis untuk menggunakan nama-nama Sunan atau tokoh Islam sebagai label.
Sebut saja UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, atau UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tujuannya jelas. Namanya juga kampus Islam, pastinya mereka ingin mengangkat tokoh-tokoh Islam agar spirit ajarannya terwarisi, dijadikan role model, serta meneguhkan identitas keislaman itu sendiri.
Namun, bagaimana jadinya, jikalau di tengah maraknya kampus Islam yang lumrah memakai nama-nama Sunan, tiba-tiba muncul nama UIN Tan Malaka (UIN TAMA) di Kediri? Peh, bau-bau revolusinya kental banget, kan?
Sekadar informasi, sejak 26 Mei 2025, IAIN Kediri resmi beralih status dan bermanuver menjadi UIN Syekh Wasil Kediri.
Bukan tanpa alasan para pimpinan memilih nama itu. Syekh Wasil merupakan sosok yang dianggap keramat, tokoh penyebar Islam di wilayah Kediri. Bahkan dalam beberapa riwayat, ia dikatakan sebagai guru dari Raja Jayabaya, si jago meramal dari Nusantara.
Rencana penggunaan Syekh Wasil sebagai simbol kampus UIN Kediri sebetulnya telah dicanangkan dan diteliti sejak 2018. Penelitian tersebut dilakukan oleh Prof. Fauzan Saleh, Ph.D. dan Almarhum Dr. Nur Chamid, M.M. (Rektor IAIN Kediri 2018–2022) dengan judul "Rekonstruksi Narasi Sejarah Syekh Al-Wasil Syamsudin dan Peranannya dalam Penyebaran Islam di Wilayah Kediri dan Sekitarnya: Menggali Pijakan Mempertegas Identitas IAIN Kediri".
Lalu, bagaimana ilustrasinya jika saja IAIN Kediri justru mendompleng identitasnya pada nama Tan Malaka, bukan Mbah Wasil? Sedikit kontroversial, namun jelas legit.
Mengapa harus Tan Malaka?
Simpel saja. Makam Tan Malaka ada di Kediri. Spesifiknya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Secara ketokohan, jelas kondang. Jika UIN Kediri pakai nama Tan Malaka, pasti akan lebih cepat terkenal.
Sayangnya, sepanjang pengetahuan saya, Tan Malaka dijadikan nama jalan di Kediri saja tidak. Jadi nama gedung atau stadion juga tidak. Maka, sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak meng-UIN-kan nama Tan Malaka sebagai emblem UIN Kediri.
"Lho, Mas, Tan Malaka kan bukan asli orang Kediri?"
Lha menurutmu, Mbah Wasil itu asli Kediri? Tidak. Beliau juga ulama impor dari Persia. Ya, kalau maunya tokoh asli Kediri, sekalian saja pakai nama UIN Budi Sudarsono—pemain bola legenda Persik Kediri dan Timnas Indonesia.
Ini bukan permasalahan siapa yang asli Kediri atau bukan, melainkan spirit dan nilai apa yang ingin digaungkan. Rancang bangun filosofis dan blueprint seperti apa yang pengin dijadikan pijakan UIN Kediri ke depan.
Madilog sebagai Sumber Nilai
Menjadi sumber nilai di UIN? Iya, serius. Akan ada masanya basa-basi antar-mahasiswa paling keren adalah, "Sudah baca Madilog belum?" Dari situlah akar rumput keilmuan UIN Tan Malaka Kediri dibangun.
Jika UIN Jogja punya blueprint integrasi-interkoneksi, UINSA dengan paradigma integrated twin towers, dan UIN Malang melalui pohon ilmunya, maka UIN TAMA Kediri bisa hadir dengan konsep "dialektika tauhid revolusioner".
Rektor mengeluarkan kebijakan: Madilog dijadikan matkul wajib semester awal di semua prodi.
Silabus pembelajaran dosen pun makin variatif. Mulai dari ilmu kalam dialektis, maqashid syariah transformatif, fikih madilog, hadis tematik revolusioner, tasawuf ekspansif, dan sebagainya. Madilog akan menjadi semacam kitab suci versi filsafat logika.
Anak-anak Ekonomi Syariah akan menganalisis pendistribusian zakat menggunakan perspektif Marxis. Mahasiswa Hukum Keluarga Islam merumuskan pembagian waris berbasis dialektika historis. Di sini, agama dan logika tidak bertengkar, justru akan melahirkan revolusi intelektual yang mutakhir.
Hemat saya, mahasiswa yang tidak akan terlalu ngos-ngosan menerima transfigurasi ini adalah anak-anak dari prodi Sosiologi Agama serta Akidah dan Filsafat Islam. Secara basic, keduanya telah memiliki bumbu-bumbu "kekirian" sebagai instrumen berpikir, jadi tinggal dipoles agar lebih kolosal lagi.
Dampak Kultural bagi Kampus dan Masyarakat
Jika biasanya poster Tan Malaka hanya nangkring di sekretariat ormawa, kini setiap ruang kelas tak akan luput dari gambar Bapak Republik ini.
Di gapura kampus, dengan gagah terpajang kutipan: "Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk!" Jelas itu akan menambah nyali mahasiswa dalam menimba ilmu.
Kitab kuning di tangan kanan, Madilog di tangan kiri. Tak hanya belajar di ruang kelas, mahasiswa juga getol menjadi filsuf jalanan. Karena setiap tempat adalah laboratorium sosial yang seksi untuk dikaji.
Saat KKN, mahasiswa tidak akan lagi hanya melakukan proker template: membuat plang jalan penunjuk arah rumah RT/RW, pengadaan tempat sampah, bersih-bersih masjid, nimbrung jemaah tahlil, selfie saat ngajar anak SD, lalu bikin laporan setumpuk yang sebenarnya tidak bakal dibaca siapa-siapa (kecuali dosen pendampingmu).
Mahasiswa UIN Tan Malaka bakal menjadikan desa KKN sebagai embrio revolusi pemikiran. Seminimal-minimalnya, posko KKN jadi kawah penggemblengan logika dan pemberdayaan masyarakat.
Masyarakat diajak berpikir secara terstruktur, logis, dan terukur. Karena bagaimanapun, logika mistika masih menjadi benchmark pola pikir masyarakat Indonesia.
Percaya setan gentayangan, batu akik punya khasiat, kucing hitam pembawa sial, babi ngepet, dan seterusnya dan sebagainya, adalah contoh logika mistika yang kerap bikin repot masyarakat setempat.
Logika mistika pada taraf tertentu perlu dibantah. Bukan karena ingin merobohkan budaya atau kepercayaan setempat, tetapi agar masyarakat bisa lebih bijak bestari dengan fakta, kritis, dan transformatif.
Alhasil, pengambilan keputusan dalam ruang-ruang kemasyarakatan akan lebih efektif dan bermanfaat untuk kemajuan bersama.
Output profil alumni UIN Tan Malaka pun tak perlu muluk-muluk, cukup dengan target: "Satu Desa, Satu Filsuf".
Berharap, dimulai dari satu filsuf tersebut, kelak bisa lahir pionir pendobrak ijtihad nalar kritis di desanya masing-masing. Plang penunjuk jalan hasil KKN pun seketika berubah tagline menjadi: "Berpikir kritis adalah bentuk peribadatan paling revolusioner."
Wallahua’lam.
Kontributor Cangkeman

Bapak Ibu Lempar Piring, Kita Kena Beling

Yang Online-Online Enggak Selamanya Asik
Sebuah Curhatan Cowok Kepada Cewek Se-Alam Semesta

Jadi Desainer Grafis Itu Enggak Gampang, Tau!

Tersinggung Itu Wajar, Tapi Enggak Perlu Mengancam Bunuh Orang Dong!

Stop Jadikan Orang Sebagai Perokok Pasif!
Posting Komentar (0)
Masuk dengan akun Google untuk ikut berkomentar.
Masuk dengan Google




