Cangkeman: Berani Bicara Itu Baik!
Masuk
  • SAYA AKAN LAWAN!
  • SAYA AKAN LAWAN!
  • SAYA AKAN LAWAN!
  • SAYA AKAN LAWAN!
  • SAYA AKAN LAWAN!

Terima Kasih Sudah Mencatat 401.586 Paru-Paru yang Diasapi, Pak

Diterbitkan oleh Admin
Diperbarui pada:

Terima Kasih Sudah Mencatat 401.586 Paru-Paru yang Diasapi, Pak

Selamat kepada pemerintah kita tercinta yang berhasil membukukan angka fantastis: 401.586 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut alias ISPA akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan. Kalau ini lomba mengumpulkan stempel penderitaan warga di tujuh provinsi dan 63 kabupaten atau kota, negara jelas juara umum tanpa lawan. Seperti diberitakan Liputan6, rekor kumulatif per 2 November 2026 ini diumumkan dengan begitu rapi, seolah-olah kita sedang mendengarkan laporan laba rugi tahunan perusahaan, bukan daftar paru-paru manusia yang sedang dicekik asap.

Yang bikin dada saya makin sesak, padahal nggak ikut menghirup asap di sana, adalah rincian korbannya. Juru Bicara Utama Kementerian Kesehatan, Widyawati, membeberkan bahwa pemegang saham terbesar dari penderitaan ini adalah balita usia nol sampai lima tahun dengan 91.913 kasus. Disusul anak-anak usia enam sampai sembilan tahun sebanyak 87.704 kasus, dan lansia di atas 60 tahun dengan 56.092 kasus. Belum lagi ratusan ibu hamil dan ribuan pekerja luar ruangan. Bayangkan, anak-anak yang bahkan belum tahu cara mengeja kata kebakaran hutan, paru-parunya sudah dipaksa jadi penyaring udara gratis.

Rumah Oksigen di Negeri Kaya Hutan

Untuk mengatasi masalah tahunan yang selalu dianggap kejutan ini, Kemenkes pamer solusi mutakhir: Rumah Oksigen. Ada ratusan titik di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Jambi, plus sepuluh titik di Riau, tiga di Sumatera Selatan, dan satu titik yang sangat eksklusif di Kalimantan Timur. Logikanya sungguh bikin takjub. Hutan yang seharusnya memproduksi oksigen alami secara gratis dibiarkan terbakar, lalu ketika warganya megap-megap, negara datang bak pahlawan kesiangan mendirikan tenda berisi tabung oksigen dan membagikan 3,8 juta masker.

Ini persis seperti tetangga yang tiap hari membakar sampah plastik di depan pintu rumah kita, lalu pas kita batuk-batuk, dia dengan wajah penuh empati mengetuk pintu sambil menyodorkan sebutir obat warung. Kita disuruh berterima kasih atas fasilitas darurat itu, sambil melupakan fakta bahwa udara bersih yang seharusnya jadi hak dasar sudah berubah jadi barang mewah yang harus diantre di fasilitas kesehatan.

Tentu saja, komedi birokrasi ini tidak akan lengkap tanpa senjata pamungkas pejabat kita: imbauan. Di ujung laporannya, Widyawati berpesan soal rutinitas menghadapi asap.

"Dan imbauan kepada masyarakat, seperti biasa, selalu gunakan masker, mengurangi paparan partikel berbahaya dari asap, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah."

Dua kata yang paling jujur dan menampar dari kutipan itu adalah: seperti biasa. Benar-benar sebuah pengakuan polos bahwa menghirup asap karhutla memang sudah jadi agenda rutin di negeri ini, setara dengan bayar pajak motor atau arisan RT.

Warga juga disuruh rajin mencuci tangan, minum air putih yang cukup, makan bergizi, sampai memantau kualitas udara di kanal resmi. Ya gimana, Mbak, mau makan bergizi dan minum air putih bergalon-galon juga kalau yang dihirup tiap detik itu asap pekat, ya tetap saja ujungnya pindah tidur ke puskesmas. Lagian buat apa memantau kualitas udara lewat aplikasi segala, wong buka jendela kamar saja jarak pandang sudah kayak masa depan penanganan karhutla kita: gelap dan penuh kabut.

0Komentar1Dibaca
Bagikan:WhatsAppXFacebook

Laporkan artikel ini

Pilih alasan yang paling sesuai. Identitasmu tidak ditampilkan ke pemilik konten.

Alasan laporan
  1. Cangkeman
  2. Cangkeman!
  3. Cangkeman
Cangkeman

Cangkeman

Berani Bicara Itu Baik!

Posting Komentar (0)

Masuk dengan akun Google untuk ikut berkomentar.

Masuk

    Feedback

    Nemu error, punya ide, mau protes, atau sekadar kasih semangat? Tulis saja. Redaksi membaca semuanya.